Hari Raya Idhul Fitri 1433H, 2012

Meski Lebaran sudah lewat, izinkan saya mengucapkan ya sahabat2.

Terkadang lisan mengucap tak terjaga

hati berprasangka tanda tak berkenan

maaf jika tangan tak sempat berjabat

setidaknya ada kata yang terucap

Minal Aidzin Wal Faizin Mohon Maaf Lahir & Batin

Maafkan atas segala khilaf Mufid Sekeluarga. Semoga di hari yang fitri ini, kita kembali menjadi diri yang lebih baik lagi. Semangat bekerja, semangat beribadah dan tentunya semangat Fb an untuk saling berbagai karena berbagi itu indah.

By mufidmodo Posted in fatwa

Dauroh Shohih Bukhari

Kumpulan Audio Syaikh Musa’id Basyir Ali (yang diadakan di Markaz Islamic Center Al-Islam)

1\ Profil Syaikh Muhaddits Musa’id Basyir Ali (download)

1\ Muhadhoroh ke-01 (download)

2\ Muhadhoroh ke-02 (download)

3\ Muhadhoroh ke-03 (download)

4\ Muhadhoroh ke-04 (download)

5\ Muhadhoroh ke-05 (download)

6\ Muhadhoroh ke-06 (download)

7\ Muhadhoroh ke-07 (download)

8\ Muhadhoroh ke-08 (download)

9\ Muhadhoroh ke-09 (download)

10\ Muhadhoroh ke-10 (download)

11\ Muhadhoroh ke-11 (download)

12\ Muhadhoroh ke-12 (download)

13\ Muhadhoroh ke-13 (download)

14\ Muhadhoroh ke-14 (download)

15\ Muhadhoroh ke-15 (download)

16\ Muhadhoroh ke-16 (download)

17\ Muhadhoroh ke-17 (download)

18\ Muhadhoroh ke-18 (download)

19\ Muhadhoroh ke-19 (download)

20\ Muhadhoroh ke-20 (download)

Source : http://alislamu.com/

By mufidmodo Posted in fatwa

Diantara fenomena Kemunafikan

Segala puji hanya bagi Allah Yang telah menciptakan manusia agar mereka menjadi baik bukan buruk, menjadi pribadi yang bermanfaat bukan berbahaya, menjadi sosok yang ikhlas bukan munafiq. Allah berfirman:

قال الله تعالى : â  لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ ٤ ثُمَّ رَدَدۡنَٰهُ أَسۡفَلَ سَٰفِلِينَ ٥ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَلَهُمۡ أَجۡرٌ غَيۡرُ مَمۡنُونٖ ٦á  [ التين: 6-4]

“ sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yangsebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. QS. Al-Tin: 4-6.

Dan aku bersaksi bahwa  tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengabarkan kepada para hambaNya bahwa kemunafikan adalah penyakit bahkan termasuk penyakit sosial yang paling berbahaya. Allah  Subahanahu Wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى : â  وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يُعۡجِبُكَ قَوۡلُهُۥ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَيُشۡهِدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلۡبِهِۦ وَهُوَ أَلَدُّ ٱلۡخِصَامِ ٢٠٤ وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي ٱلۡأَرۡضِ … á  [ البقرة: 205-204]

Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentangkehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepadaAllah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalahpenantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi…”. QS. Al-Baqarah: 204-205.

Dan aku bersaksi bahwa tauladan kami Muhammad adalah Rasul utusan Allah, imam orang-orang yang ikhlas dalam berbuat. Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam kepada Muhammad dan kepada para keluarga, para shahabatnya yang telah menjauhi kemunafikan, ikhlas semata karena Allah Yang Maha Esa dan Maha Pencipta. Maka Allah mengangkat derajat mereka di dunia atau di akherat. Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Amma Ba’du:. Nifaq adalah akhlak yang buruk, dimana pelakunya berbuat sesuatu yang berbeda dengan apa yang dikatakannya. Perbedaan antara perkataan seseorang dengan perbuatannya adalah salah satu bentuk penipuan bahkan dia adalah bentuk pertama penipuan. Banyak orang-orang yang kita saksikan berpakian seperti pakaian orang yang soleh, berbicara seperti gayanya orang-orang yang bijaksana, yang memberi nasehat dengan nasehat yang baik, kita mendengar perkataannya terlontar semanis madu, lafaz yang indah sehingga engkau menyangka bahwa perkataan tersebut keluar dari hati yang tulus dan bersih, dari relung yang bersih sehingga membuat dirimu menjadi cenderung dengannya, bergaul dengannya menerimanya sebagai kawan setia dengan penuh rasa percaya diri dan tenang namun pada saat dia mendapatkan kesempatan untuk menampakkan jati dirinya yang selama ini disembunyikannya maka dia akan menimpakan kepadamu bencana, kubang kebinasaan dan petaka-petaka yang besar, lalu pada saat itulah dirimu tidak merasakan kesedihan dan penyesalan, dan dirimu memandang kehidupan ini dengan jiwa yang tertekan karena merasa sial, seperti pandangan orang yang ragu terhadap setiap orang yang berada disekitarnya, bahkan takut terhadap baying-bayangnya sendiri. Sang penipu ini telah berbuat lalim terhadap dirinya sendiri. Di mana dirimu telah mengubah pola pergaulan dengan dirinya dan menghapuskan kepercayaanmu terhadap dirinya, dengan tindakan seperti ini berarti dia telah berbuat buruk terhadap masyarakat secara keseluruhan sebab dia telah mempengruhi dirimu untuk takut kepada setiap orang dan menjauhkan dirimu dengan dirinya. Maka orang munafiq penipu seperti ini sebagai sumber bencana yang sangat besar.

Dan sungguh sangat mengherankan jika zaman modern ini tidak menolak keburukan ini dan telah bergerak untuk tetap menancapkan kaki tangannya di tengah-tengah kehidupan kita. Dia bertemu denganmu bagai seorang kawan yang setia atau teman sebangsa, dia melontarkan perkataan yang manis nan indah, dengan raut muka yang berseri-seri dan tersenyum, bertanya kepadamu tentang keadaan dirimu seakan sebagai orang yang sangat perhatian dengan kesehatan pribadimu dan anak-anakmu serta seluru keadaan dirimu dengan bahasa yang indah dan halus serta wajah yang selalu tersenyum sementara demi Allah mengetahuinya bahwa dia adalah pribadi pendengki dan iri. Lapisan hatinya  memperlihatkan kadar  cinta atau rasa bencinya kepadamu, berangan-angan agar dirimu segara  ditimpa mudharat, bahkan dia berupaya secara rahasia di balik pandanganmu agar dirimu terjebak ke dalam bahaya sementara dirimu masih berniat baik kepadanya tidak mengetahui kebusukan niat yang disembunyikannya di berbuat suatu semua keburukannya tanpa ada rasa takut kepada Allah, Tuhannya dan tanpa menghormati harga diri orang lain. Orang yang berperilaku seperti ini sama dengan sosok yang disebutkan oleh Allah di dalam firmanNya:

قال الله تعالى : â وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ ٨ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَمَا يَخۡدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمۡ وَمَا يَشۡعُرُونَ ٩ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضٗاۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمُۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡذِبُونَ ١٠ وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ قَالُوٓاْ إِنَّمَا نَحۡنُ مُصۡلِحُونَ ١١ أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡمُفۡسِدُونَ وَلَٰكِن لَّا يَشۡعُرُونَ 12á  [ البقرة: 12-8]

“Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepadaAllah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnyabukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. QS. Al-Baqarah: 8-12.

Wahai sekalian hamba Allah, renungkanlah dan ambillah pelajaran dari kisah seorang lelaki bernama Ts’alabah bin Hathib yang telah menampakkan keislamannya, dia berkata dengan lisannya apa-apa yang tidak sesuai dengan apa yang tersimpan di dalam hatinya, selalu shalat jum’at dan menghadiri shalat jama’ah di belakang Rasulullah shalallau alaihi wa sallam. Suatu ketika dia berkata; Wahai Rasulullah, mintalah kepada Allah agar Dia berkenan memberikan rizki yang luas kepadaku dan mencurahkan kepadaku harta benda yang berlimpah. Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Tsa’labah rizki yang sedikit yang engkau mampu mensyukurinya lebih bagimu daripada harta yang banyak yang tidak mampu engkau syukuri”.

Lalu dia memohon kembali dan berkata,  demi yang mengutusmu dengan kebenaran jika Allah menganugrahkan kepadaku harta yang berlimpah maka aku akan memberikan setiap orang yang berhak haknya masing-masing, maka Nabi pun berdo’a untuknya lalu dia membeli seekor kambing lalu kambing tersebut berkembang biak sehingga lembah menjadi sempit namun dia tidak memenuhi janjinya dan mengingkari nikmat-nikmat Allah kepadanya, maka diapun meninggalkan shalat jum’at dan jama’ah dan nabipun seperti biasanya bertanya tentang dirinya maka para shahabat menjawab, Hartanya telah banyak, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Alangkah celakanya Tsa’labah, lalu pada saat satu tahun telah sempurna Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengutus dua orang lelaki untuk meminta zakat darinya. Tsa’labah menjawab kepada kedua orang utusan tersebut setelah dia merasa bahwa zakat tersebut terlalu banyak atas dirinya; Ini adalah jizyah, kembalilah sampai aku memberikan keputusan. Lalu ketikan kedua utusan tersebut telah kembali pulang Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Alangkah celakanya Tsa’labah, lalu Allah menurunkan firmanNya:

قال الله تعالى : â  ۞وَمِنۡهُم مَّنۡ عَٰهَدَ ٱللَّهَ لَئِنۡ ءَاتَىٰنَا مِن فَضۡلِهِۦ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ٧٥ فَلَمَّآ ءَاتَىٰهُم مِّن فَضۡلِهِۦ بَخِلُواْ بِهِۦ وَتَوَلَّواْ وَّهُم مُّعۡرِضُونَ ٧٦ فَأَعۡقَبَهُمۡ نِفَاقٗا فِي قُلُوبِهِمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ يَلۡقَوۡنَهُۥ بِمَآ أَخۡلَفُواْ ٱللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُواْ يَكۡذِبُونَ ٧٧ أَلَمۡ يَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ سِرَّهُمۡ وَنَجۡوَىٰهُمۡ وَأَنَّ ٱللَّهَ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ ٧٨ á  [ التوبة: 78-75]

 

Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepadaAllah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagiankarunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah danpastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amatmengetahui segala yang gaib?. QS. Al-Taubah: 75-78.

Itulah orang yang dusta dan berdosa yang telah menceburkan dirinya ke dalam kesengsaraan karena dia menylahi perkataan dan janjinya, dia kembali membawa murka dari Allah dan Rasul-Nya dan dia berhak mendapat siksa. Maha Benar Allah dengan firmanNya:

قال الله تعالى : â إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ 28á  

 [ غافر: 28]

Sesungguhnya Allahtidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagipendusta. QS. Gafir: 28.

Hendaklah seorang muslim bertaqwa kepada Allah dan hendaklah dia waspada terhadap kemunafikan, hendaklah hatinya sama dengan apa yang terungkap dalam perkataan lisannya, hanya kepada Allah kita memohon agar Dia sudi menunjukkan diri kita kepada jalan kebenran, jalan yang lurus dan mendapat petunjuk dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang jujur dan terpercaya, “Kebaikan itu tidak akan pernah lapuk dan dosa itu tidak akan pernah dilupakan, dan Allah Yang Membalas tidak akan pernah mati, berbuatlah sekehendakmu seperti apa perbuatanmu maka seperti itulah engkau akan mendapat balasan”. HR. Abdurrazzaq di dalam kitab Al-Jami’ dari Abi Tsulabah radhaillahu anhu.

Semoga Allah memberikan keberkahannya bagiku dan bagi kalian semua di dalam Al-Qur’an yang mulia, dan Allah memberikan manfaat bagiku dan bagi kalian dengan dengan petunjuk penghulu para nabi utusan Allah. Hanya inilah yang bisa aku katakan dan aku memohon ampunan bagi diriku dan bagi kalian serta seluruh kaum muslimin kepada Allah yang Maha Mulia dari segala dosa. Mohonlah ampun kepadaNya dan bertaubatlah kepada Allah, sebab Dia adalah Zat Yang Pengampun lagi Maha Penyayang.


Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah atas segala kebaikanNya dan syukur kepadaNya atas segala taufiq dan karuniaNya. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhamad adalah hamba dan utusanNya, yang menyeru kepada kerdhaan dan ampuanan Allah. Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam kepada beliau, kepada keluarga dan istri-istri beliau serta para shahabat dan seluruh pengikut beliau. Amma Ba’du:

Wahai sekalian hamba Allah!. Orang yang menyadari sifat-sifat buruk orang-orang munafiq yang disebutkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an maka dia menyadari bahwa mereka lebih berhak menempati kerak api neraka yang paling dalam. Allah mensifati mereka sebagai orang yang menipu Allah dan menipu para hambaNya, menyebutkan mereka sebagai orang yang berhati sakit, yaitu karena penyakit syubhat dan keraguan, mensifati mereka sebagai orang yang membuat kerusakan dipermukaan bumi, memperolok-olok agama Allah, para hamba, berbuat zalim, menggadaikan kesesatan dengan petunjuk, mereka orang yang tuli, bisu, buta, bimbang dan malas saat beribadah, berlaku zina, sedikit menyebut Allah dan ragu-ragu memilih antara orang-orang yang beriman dengan orang-orang yang kafir. Mereka tidak tergabung dalam kelompok ini dan tidak pula bergabung dengan kelompok lainnya, mereka bersumpah dengan nama Allah secara dusta dan bohong, perkara mereka samar, tidak paham terhadap agama, tidak berilmu dan tidak pula beriman kepada Allah dan hari akhir. Mereka juga membenci menangnya cahaya agama Allah, mereka bersedih jika melihat umat Islam mendapat kebaikan dan kemenangan, senang jika melihat kaum muslimin mengalami bencana dan ujian, mereka selalu mengintai kelemahan kaum muslimin, suka mencela orang-orang yang beriman dan menuduh mereka dengan tuduhan yang bukan sebenarnya, maka mereka mencela orang-orang yang bersedeqah dan mensifati mereka sebagai budak dunia, jika mereka diberikan maka mereka rela dan  jika tidak diberikan maka mereka marah, mereka juga menyakiti dan mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mencari-cari kerelaan manusia dan tidak berusaha mencari keridhaan Allah Subahanahu Wa Ta’ala. Selain itu mereka juga mengejek orang-orang yang beriman.

Allah mensifati mereka sebagai orang yang busuk, yaitu benda busuk adalah benda yang paling kotor dan jelek. Mereka adalah anak Adam yang paling busuk, kotor dan hina.

Allah juga mensifati mereka sebagai orang yang menyeru kepada kemungkaran dan mencegah yang ma’ruf, pelit dalam berinfaq di jalan Allah guna mendapat keridhaan Allah.

Wahai sekalian hamba Allah!. Inilah sebagian sifat-orang-orang munafiq yang telah disebutkan dalam Al- Qur’an yang mulia dan banyak sekali orang yang bersifat seperti ini pada zaman kita sekarang. Semoga Allah melindungi kita darinya. Betapa banyak orang yang bergerak menyebarkan kerusakan di antara kaum muslimin dan betapa banyak orang yang menyerahkan loyalitasnya kepada orang-orang kafir dan meninggalkan kaum muslimin.

Wahai sekalian hamba Allah!. Sesungguhnya bahaya orang-orang munafiq tersebut sangat besar, ancaman mereka sangat luas terlebih karena mereka menamakan dirinya sebagai orang muslim, bergaul bersama masyarakat muslim sehingga orang-orang merasa aman dari bahayanya.

Oleh karena itulah, kaum muslimin tidak mengalami musibah di dalam diri mereka yang melebihi musibah yang ditimpakan oleh orang-orang munafiq yang hidup di tengah-tengah masyarakat muslim.

Inilah yang dapat saya sampaikan dan ucapkanlah shalawat dan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

By mufidmodo Posted in fatwa

khutbah “nikmatnya taubah”

Khutbah Pertama

الحَمْدُ للهَ الَّذِي وَعَدَ الْمُتَّقِينَ بِجَنَّاتٍ وَنَعِيم  وَتَوَعَّدَ الظَالِمِين بِجَهَنَّم وَعَذَابٍ أَلِيمِ فَمَا لَهُمْ مِنْ شَافِعِينَ وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٍ.  أشهَدُ أنْ لاَ إلَهَ إلا الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ . وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ  اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِك عَلىَ سَيَّدِناَ مُحمَّد وَعلىَ آلِهِ وَصَحابِتِه وَمَنْ تبِعَهُم بِإحْسَانٍ إلَى يَومٍ عَظِيْم. رَبَّنَا اغْفِرْ لنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ. أما بعد: فيَا أيُّها المؤْمِنُون رَحِمَكُم الله  اتَّقُوا الله َوَقَدْ فَازَ المُتَّقُون و قال ربنا جل وعلا: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾ [آل عمران: 102]

Saudaraku kaum musliminRahimahullah

Marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala. Atas segala ni`mat yang telah diberikan kepada kita, terutama ni`mat Iman dan Islam. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada baginda nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, keluraga, shabat, serta para pengikutnya sampai hari kiamat.

Selanjutnya saya mengajak kepada diri saya sendiri dan saudara sekalian, untuk selalu meningkatkan kualitas ketaqwaan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sebuah ketaqwaan yang mampu membawa kepada kesucian jiwa dan keselarasan amal sesuai dengan ketentuan syariat Allah subhanahu wa ta’ala.

Sidang Jumaat Yang Berbahagia

Hidup tak ubahnya seperti menelusuri jalan setapak yang becek di tepian sungai yang jernih. Kadang orang tak sadar kalau lumpur yang melekat di kaki, tangan, badan, dan mungkin kepala bisa dibersihkan dengan air sungai tersebut.Boleh jadi, kesadaran itu sengaja ditunda hingga tujuan tercapai.Tidak ada manusia yang bersih dari salah dan dosa. Karena ia bukan malaikat yang bersih dari daosa. Selalu saja ada debu-debu lalai yang melekat.Sedemikian lembutnya, terlekatnya debu kerap berlarut-larut tanpa terasa. Di luar dugaan, debu sudah berubah menjadi kotoran pekat yang menutup hampir seluruh tubuh.

Menyadari bahwa siapa pun yang bernama manusia punya kelemahan, kekhilafan, maka sudah saatnyalah kita merenungi diri untuk senantiasa minta ampunan dan bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah bersabda: demi Allah sungguh aku beristighfar dan bertaubat kepaNya dalam sehari lebih dari 70 kali..(HR Bukhori).

Sebelum kita membahas tentang taubat, penting bagi kita untuk mengetahui apa itu dosa. Dosa adalah segala sesuatu yang dilahirkan akibat melakukan pelanggaran terhadap perintah-perintah atau larangan Allah. Orang yang melakukan dosa berarti telah bermaksiat. Macam maksiat ini oleh ulama dibagi secara umum  menjadi dua, yaitu shoghoir dan kabair.

  • Shagha’ir atau dosa-dosa kecil adalah dosa-dosa yang tidak mengakibatkan hukuman di dunia dan tidak ada ancaman khusus di akhirat.
  • Adapun Kaba’ir atau dosa besar, menurut Ibnu Abbas adalah setiap dosa yang ketika menyebutkannya Allah mengakhirinya dengan kata Naar, kemurkaan, laknat, atau adzab.  

Kaum Muslimin Rahimahullah.

Taubat secara bahasa mempunyai arti kembali. Sedang secara syar`i adalah kembalinya seorang hamba kepada Allah dengan meminta ampun atas segala dosa-dosa yang telah ia lakukan dengan janji yang sungguh sungguh untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut di waktu yang akan datang, dan menggantinya perbuatan dosa tersebut dengan menjalankan amal-amal soleh yang bisa menambah mendekatkan dirinya kepada Allah.

Seorang tabiin Imam al-Kalbi – rahimahullah – mengatakan tentang taubat: “ menucapkan istighfar dengan mulut, penyesalan dengan hati, dan meninggalkan dosa dengan anggota badan, dan bertekat untuk tidak kembali berbuat dosa.

Lalu Kapan Harus bertaubat?

Taubat dari dosa harus dilaksakan segera dan tidak boleh ditunda-tunda.Karena penundaan bertaubat merupakan indikasi ketidak seriusan seseorang dalam bertaubat. Disamping itu penundan dari taubat sangat membayakan jiwa seseorang, bisa saja ia meninggal denga tiba –tiba sebelum ia sempat untuk bertaubat. Inilah kenapa Allah dalam surat Ali Imron 133 Allah berkalam:

قال الله تعالى: ﴿وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ ١٣٣﴾ [سورة آل عمران: 133]

                Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (Ali Imran:133).

Kita perhatikan dalam ayat ini, Allah menggunakan kata ( وَسَارِعُوا ) yang artinya bersegera, kemudian kata (مَغْفِرَةٍ) menggunakan redaksi kata nakiroh atau kata yang masihbersifat umum belum jelas. Ini memberikan salah satu isyarat bagi kita, bahwa kita semua diperintahkan untuk bersegera, bercepat-cepat menggapai sebuah maghfiroh atau ampunan yang mana belum tentu kita gapai, karena bisa saja kita lebih dahulu dipanggil Allah sebelum sempat bertaubat dan mendapatkan ampunan dari Allah. Karena pada hakikatnya semuanya yang ada didunia ini, termasuk hidup mati kita adalah milik Allah, oleh karena itu empat ayat sebelum ayat ini, tepatnya ayat ke 129 dijelaskan bahwa”:

قال الله تعالى: ) وَلِلَّهِ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۚ يَغۡفِرُ لِمَن يَشَآءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ١٢٩  ((سورة آل عمران : 129)

Kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dia esame ampun kepada siapa yang Dia kehendaki; Dia menyiksa siapa yang Dia kehendaki; dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran:129)

Dalam ayat lain Allah, menjelaskan bahwa taubat seseorang akan diterima oleh Allah subhanahuwata`ala, adalah taubatnya orang yang bersegera bertaubat, dan tidak menunda –nundanya, karena dalam menunda itu terdapat ketidakseriusan. Allah berkalam dalam surah an-Nisa` : 17

قال الله تعالى: )إِنَّمَا ٱلتَّوۡبَةُ عَلَى ٱللَّهِ لِلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ ٱلسُّوٓءَ بِجَهَٰلَةٖ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٖ فَأُوْلَٰٓئِكَ يَتُوبُ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمۡۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمٗا( [سورة النساء: 17]

Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. ( An Nisaa’:17(. Diriwayatkan dari ibnu Abbas, bahwa maksud dari kata (  يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ ; yang kemudian mereka bertaubat dengan segera), adalah sebelum seseorang dalam keadan sakit atau sebelum  meninggal.

Ma`asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Taubat yang selayaknya dilakukan seorang hamba Allah yang ikhlas adalah dengan taubat yang tidak setengah-setengah.Benar-benar sebagai taubat nasuha, atau taubat yang sungguh-sungguh.Karena itu, ada tiga syarat untuk taubat nasuha, yaitu:

Pertama, menyesali secara serius kesalahan masa lalu, harus ada perasaan bersalah, bahkan merasajijik/ merasa kotor ketika mengingat masa lalu yang buruk.

Kedua: mencabut lepas secara total saat ini juga semua perbuatan buruk yang bertentangan dengan agama.

Ketiga: meniatkan dengan sungguh-sungguh (komitmen yang keras) untuk tidak kembali ke masa lalu yang buruk. Namun, apabila dasa atau kesalahan tersebut berhubungan dengan hak-hak manusia maka, selain tiga syarat tersebut, harus ditambah syarat

Keempat, yaitu:  Meminta maaf atau minta ridha (halal) di atas dosa-dosa dengan manusia (orang yang bersangkutan) atau membayar gantirugi atau memulangkan barang yang telah diambil itu.

Dengan demikian inti dari taubat nasuha adalah bertaubat dari dosa yang diperbuatnya saat ini dan menyesal atas dosa-dosa yang dilakukannya di masa lalu dan brejanji untuk tidak melakukannya lagi di masa medatang. Apabila dosa atau kesalahan tersebut terhadapbani Adam (sesama manusia), maka caranya adalah dengan meminta maaf kepadanya. Rasulullah pernah ditanya oleh seorang sahabat, “Apakah penyesalan itu taubat ?”, “Ya”, kata Rasulullah (H.R. Ibnu Majah). Amr bin Ala pernah mengatakan: “Taubat Nasuha adalah apabila kamu membenci perbuatan dosa sebagaimana kamu pernah mencintainya”.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم وهدانا وإياكم إلى صراط مستقيم ونفعني وإياكم بالآيات والذكر الحكيم. أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين. فاستغفروه وتوبوا عليه إنه هو الغفور الرحيم.

Khutbah Kedua

الحمد لله رب العالمين  والصلاة والسلام على سيد الأنبياء و إمام المرسلين وعلى آله وصحابته ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين  أما بعد: فيا أيها الناس اتقوا الله وحافظوا على الطاعة وحضور الجمعة والجماعة. قال الله تعالى :  { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ } (الجمعة : 9). وقال أيضا: { إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا }

فاعلموا أن الله أمركم بأمر بدأ فيه بنفسه و ثنى بملائكته المسبحة بقدسه و ثلث بكم أيها المسلمون فقال عز من قائل إن الله و ملائكته يصلون على النبي يأيها الذين آمنوا صلوا عليه و سلموا تسليما. اللهم صل و سلم على نبينا محمد و عل آله و صحابته و من اهتدى بهديه و استن بسنته إلى يوم الدين. ثم اللهم ارض عن الخلفاء الراشدين المهديين أبي بكر و عمر و عثمان و علي و على بقية الصحابة و التابعين و تابع التابعين و علينا معهم برحمتك ي أرحم الرحمين.

اللهم إنا نسألك بكل اسم هو لك سميت به نفسك أو أنزلته في كتابك أو  علمته أحدا من خلقك أو استأثرته في علم الغيب عندك أن تجعل القرآن ربيع قلوبنا و نور صدورنا و جلاء أحزاننا و ذهاب همومنا و غمومنا

اللهم اغفر للمسلمين و المسلمات و المؤمين و المؤمنات الأحياء منهم و الأموات.

اللهم أعز الإسلام و المسلمين و أهلك الكفرة و المشركين و دمر أعداءك أعداء الدين

اللهم أصلح لنا ديننا الذي هو عصمة أمرنا و أصلح لنا دنيانا التي فيها معاشنا و أصلح لنا آخرتنا التي إليها معادنا و اجعل اللهم حياتنا زيادة لنا في كل خير و اجعل الموت راحة لنا من كل شر

اللهم أعنا على ذكرك و شكرك و حسن عبادتك

اللهم إنا نسألك الهدى و التقى و العفاف و الغنى و حسن الخاتمة

اللهم اغفر لنا و اوالدينا و ارحمهم كما ربونا صغارا

ربنا هب لنا من أزواجنا و ذرياتنا قرة أعين و احعلنا للمتقين إماما ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا و هب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب ربنا آتنا في الدنيا حسنة و في الآخرة حسنة و قنا عذاب النار عباد الله إن الله يأمركم بالعدل و الإحسان و إيتاء ذى القربى و ينهى عن الفحشاء و المنكر و البغي يعظكم لعلكم تذكرون فاذكروا الله العظيم يذكركم و اسألوه من فضله يعطكم و لذكر الله أكبر و الله يعلم ما تصنعون.

By mufidmodo Posted in fatwa

Adab Memberi Keputusan Dan Menasihati Orang Lain

Pertanyaan: Bolehkah bagi seseorang menempatkan dirinya sebagai hakim (pemberi keputusan, menghukumi) orang lain di setiap kondisi? Dan kapankah dibolehkan secara syara’ bagi seseorang berkata: Ini sangat buruk dan ini seperti ini?

 Jawaban: Tidak pantas bagi seseorang menempatkan dirinya sebagai hakim terhadap orang lain dan melupakan dirinya sendiri. Akan tetapi seseorang harus lebih dulu melihat kekurangan yang ada pada dirinya sebelum melihat kekurangan orang lain. Akan tetapi jika ia menempatkan dirinya sebagai pemberi nasihat kepada saudara-saudaranya, menyuruh yang ma’ruf dan melarang yang munkar, maka ini sesuatu yang baik.  Dan tidak dikatakan bahwa ia menempatkan dirinya sebagai hakim bagi manusia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: ) إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ١٠(  سورة الحجرات : 10

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.(QS. Al-Hujurat: 10).

Dan Nabi salallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا ))  متفق عليه

Seorang mukmin bagi mukmin yang lain adalah seperti bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.”[1]

 

 

Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: ) وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ (  ( سورة المائدة : 2 )

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (QS. Al-Maidah: 2)

Dan Nabi salallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( اَلدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ. قُلْنَا لِمَنْ قَالَ: لِلهِ وَلِكِتَابِهِ لِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتَهِمْ )) ( رواه مسلم )

Agama adalah nasihat. Kami bertanya: Untuk siapa? Beliau menjawab: ‘Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan kalangan awam.”[2]

 

 

Dan beliau salallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ )) ( متفق عليه )

Tidak beriman (yang sempurna) seseorang darimu sehingga ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang dia sukai untuk dirinya.”[3]

Hendaklah seseorang memperbaiki dirinya sendiri lebih dahulu kemudian berusaha memperbaiki orang lain karena mencintai kebaikan dan memberi nasihat kepada mereka, bukan dari sisi merendahkan atau mencari kekurangan orang lain, dan inilah yang dilarang di dalam Islam.

Adapun ucapan seseorang: Ini sangat buruk dan ini tidak seperti itu..maka tidak boleh bagi seorang muslim secara syara’ mengatakan hal itu kepada saudaranya sesama muslim, kecuali bila ia terkenal menyimpang dan mempunyai tujuan buruk. Siapa yang mengetahui kondisinya niscaya ia harus mengatakan apa yang dia ketahui tentang keburukan dan penyimpangannya, apabila hal itu berdampak baik untuk kepentingan agama agar manusia (kaum muslimin) berhati-hati terhadapnya sehingga mereka bisa mengantisipasi bahayanya. Adapun bila ia mengucapkan hal itu hanya karena semata-mata ingin menjatuhkannya atau ingin mencela saja maka ini tidak boleh. Karena hal ini menjadi celaan yang sifatnya pribadi yang tidak ada mashlahah padanya.

Tidak diragukan lagi bahwa memberi keputusan terhadap orang lain memerlukan ketelitian dan kepastian. Seseorang jangan berpegang terhadap prasangkanya, dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: ) يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞۖ وَ لَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ(  سورة الحجرات : 12

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain.  (QS. Al-Hujurat: 12)

Demikian pula seseorang tidak boleh berpegang terhadap berita orang yang fasik. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

 قال الله تعالى: ) يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَٰلَةٖ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَ ٦ ۚ( سورة الحجرات :6

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. Al-Hujurat: 6)

 

Karena alasan inilah seseorang harus menjauhi prasangka buruk dan tidak memutuskan hanya karena dugaan belaka. Ia tidak boleh menerima berita dari setiap orang yang datang tanpa meneliti. Ia jangan memutuskan terhadap manusia kecuali berdasarkan ilmu syar’i. Maka apabila ia mempunyai ilmu syar’i maka ia memutuskan berdasarkan ilmu yang ada padanya. Adapun bila ia seorang yang jahil terhadap hukum-hukum syara’ maka ia tidak boleh memberi keputusan terhadap tindakan dan prilaku manusia. Seseorang tidak boleh memasuki wilayah yang dia tidak mempunyai pengetahuan tentangnya:

قال الله تعالى: ) وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَر  وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡ‍ُٔولٗا ٣٦ ( سورة الإسراء:36

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.(QS. Al-Isra’: 36)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

 

قال الله تعالى: ) قُلۡ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ ٱلۡفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَ وَٱلۡإِثۡمَ وَٱلۡبَغۡيَ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَأَن تُشۡرِكُواْ بِٱللَّهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ سُلۡطَٰنٗا وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٣( سورة الأعراف : 33

Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”.. (QS. Al-A’raaf: 33).

 

Maka orang yang tidak punya ilmu tidak boleh memunculkan hukum hanya semata-mata dugaannya atau pendapatnya atau sesuatu yang diminati oleh nafsunya. Namun ia harus menahan diri karena persoalannya sangat berbahaya. Barangsiapa yang menuduh seorang mukmin yang tidak ada padanya atau menyebutkan sifatnya yang tidak sesuai atasnya maka akibatnya akan kembali kepadanya, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( إِنّهُ مَنْ لَعَنَ شَيْئًا لَيْسَ لَهُ بِأَهْلٍ رَجَعَتِ اللَّعْنَةُ عَلَيْهِ )) (رواه أبو داود والترمذي)

Sesungguhnya siapa yang mengutuk seseorang yang tidak pantas niscaya kutukan itu kembali kepadanya.”[4]

Demikian pula tidak boleh bagi seorang muslim berkata kepada saudaranya, wahai orang fasik, atau wahai orang kafir, atau wahai orang keji,  atau gelar-gelar buruk yang serupa. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

قال الله تعالى: ) وَلَا تَنَابَزُواْ بِٱلۡأَلۡقَٰبِۖ بِئۡسَ ٱلِٱسۡمُ ٱلۡفُسُوقُ بَعۡدَ ٱلۡإِيمَٰنِۚ( سورة الحجرات :11

dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.  Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman…(QS. Al-Hujurat: 11).

Seorang muslim harus menjaga diri dari hal ini dan hendaknya ia mempunyai ilmu dan pengetahuan sehingga bisa memutuskan  dengannya terhadap dirinya lebih dahulu, kemudian terhadap orang lain, sebagaimana ia harus mempunyai sifat teliti, berpandangan jauh dan tidak terburu-buru dalam segala perkara. Syaikh al-Fauzan – Kitab Dakwah edisi (7) (2/168-170).


[1] HR. Al-Bukhari 2446 dan Muslim 2585.

[2] HR. Muslim 55.

[3] HR. Al-Bukhari 13 dan Muslim 45.

[4] HR Abu Daud 4908, at-Tirmidzi 1978 dari hadits Ibnu Abbas ra dan ia berkata: Hasan gharib. Dan Abu Daud 4905 dengan teks serupa dari Abud Darda` ra dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud 4099 dan 4102.

By mufidmodo Posted in fatwa

Apakah Memberi Pengaruh Buruk Perbedaan Usia Di Antara Suami Istri?

Pertanyaan: Berapakah usia ideal untuk perkawinan bagi perempuan dan laki-laki? Karena sebagian remaja putri tidak meneriman perkawinan dari laki-laki yang usianya jauh lebih tua. Demikian pula sebagian laki-laki enggan menikahi wanita yang usianya lebih tua. Kami mengharapkan jawaban, semoga Allah swt memberi balasan kebaikan kepadamu.

 Jawaban: Saya berpesan kepada para remaja putri agar jangan menolak lamaran laki-laki karena usianya yang sudah tua, seperti lebih tua sepuluh tahun atau dua puluh tahun atau tiga puluh tahun. Ini bukanlah ujur (alasan). Nabi saw telah menikahi Aisyah radhiyallahu ‘anha saat berusia (53) lima puluh tiga tahun dan ia berusia sembilan tahun, maka usia lanjut tidak memberi pengaruh buruk. Maka tidak mengapa wanita lebih tua dan tidak mengapa suami lebih tua, sungguh Nabi saw telah menikahi Khadijah radhiyallahu ‘anha yang sudah berusia (40) empat puluh tahun dan beliau baru berusia (25) dua puluh lima tahun sebelum diturunkan wahyu kepada beliau. Artinya Khadijah radhiyallahu ‘anha lebih tua dari beliau (15) lima belas tahun. Kemudian beliau saw menikahi Aisyah radhiyallahu ‘anha yang baru berusia enam tahun atau tujuh tahun dan campur dengannya saat ia baru berusia sembilan tahun, sedangkan beliau sudah berusia (53) lima puluh tiga tahun. Mayoritas orang yang berbicara di televisi dan radio dan melarang pernikahan karena perbedaan usia di antara pasangan suami istri, semuanya keliru, mereka tidak boleh berbicara tentang hal itu.

Seharusnya wanita memperhatikan calon suami, apabila ia seorang yang shalih dan sesuai, maka semestinya ia menerima lamaran sekalipun usianya lebih tua darinya. Demikian pula laki-laki, semestinya ia memperhatikan wanita shalih yang memiliki agama, sekalipun usianya lebih tua darinya apabila masih dalam usia muda dan usia subur.

Sebagai kesimpulan, sesungguhnya faktor usia tidak boleh menjadi alasan dan tidak seharusnya sebagai aib selama laki-laki itu shalih dan wanita itu shalihah. Semoga Allah swt memperbaiki semua.

By mufidmodo Posted in fatwa