doa memohon ampun, dan memohon kebaikan didunia serta kebaikan diakhirat

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

  1. bersholawat

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ، الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ  

وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْم

  1. istigfar

استغفر الله العظيم لي ولوالدي ولأصحاب الحقوق الواجبة عليّ ولجميع المؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الاحياءمنهم والاموات

  1. bertasbih

سُبْحَانَ اللّهِ  – والْحَمْدُللّهِ –  وَ لا اِلهَ اِلَّا اللّهُ  – وَ اللّهُ اَكْبَر

لاَحوْلَ وَلاَ قُوَّة اِلاَّبِاللّهِ

  1. Niat sedekah/  menyisihkan sedikit uang / harta kita yang punya, untuk disedekahkan setelah berdoa.
  1. penutup/doa

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

تُولِجُ اللَّيْلَ فِي الْنَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الَمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَن تَشَاء بِغَيْرِ حِسَابٍ

Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ خَطِيْئَتِيْ، وَجَهْلِيْ، وَإِسْرَافِيْ فِي أَمْرِيْ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ. اللّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ جَدِّيْ وَهَزْلِيْ، وَخَطَئِيْ وَعَمْدِيْ، وَكُلُّ ذلِكَ عِنْدِيْ، اللّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ، وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ، وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ، وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kebodohanku, keberlebih-lebihan dalam perkaraku, dan apa yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah diriku dalam kesungguhanku, kelalaianku, kesalahanku, kesengajaanku, dan semua itu adalah berasal dari sisiku. Ya Allah, ampunilah aku dari segala dosa yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan, segala dosa yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan, dan dosa yang Engkau lebih mengetahui daripadaku, Engkaulah Yang Maha Mendahulukan dan Yang mengakhirkan, dan Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu

اَللَّـهُـَّم أَصْلِحْ لِي دِينِي الّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي، وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الّتِي فِيهَا مَعَاشِي، وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الّتِي فِيهَا مَعَادِي، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ

Ya Allah mohon kebaikan pada urusan agamaku karena itu adalah penjaga semua urusanku. Aku mohon kebaikan pada urusan duniaku karena itu tempat hidupku. Aku mohon kebaikan pada urusan akhiratku karena itu tempat kembaliku. Jadikanlah hidup ini tambahan kebaikan bagiku, dan jadikanlah kematianku waktu istirahat bagiku dari segala keburukan.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu seluruh kebaikan yang segera (dunia) dan yang tertunda (akhirat), kebaikan yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui. 
Dan aku berlindung kepadaMu dari segala keburukan yang segera (dunia) dan yang tertunda (akhirat), yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui.
Aku meminta kepada-Mu kebaikan semua doa yang pernah diminta oleh hamba dan nabi-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan, yang hamba dan nabi-Mu pernah berlindung darinya.
Aku memohon surga kepadaMu dan segala perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya. Aku berlindung kepadaMu dari neraka dan segala perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya.
Aku meminta segala sesuatu yang telah Engkau takdirkan untukku, hendaklah Engkau jadikan kebaikan bagiku.

***sholat sunnah 4rakaat, bacaan setelah membaca surat alfatikah – alqodar, – al zalzalah, – alkhafirun, – al mu’awwidatain

 

semoga doa sahabat/i dikabulkan Alloh SWT

silahkan kunjungi juga blog http://www.sejutadata.blogspot.com

Video

video islam syiah

mp4 (ARABIC) Imam Syiah Mengetahui Isi Hati.mp4  
mp4 (ARABIC) Para Nabi Kalah Oleh Imam Syiah.mp4  
mp4 Ada Syiah di Indonesia.mp4  
mp4 Ahmadinejad Tokoh Yahudi.mp4  
mp4 Allah Menghinakan Jenazah Khomenei.mp4  
mp4 Aqidah Syirik Syiah.mp4  
avi Bahaya Syiah (High Quality).avi
mp4 Bahaya Syiah (Low Quality).mp4  
flv Beda Sunnah dan Syiah 1.flv  
flv Beda Sunnah dan Syiah 2.flv  
mp4 Bongkar Kesesatan dan Bahaya Syiah.mp4  
mp4 Caci Maki Ala Syiah.mp4  
mp4 Fitnah Terhadap Umar bin Khattab.mp4  
mp4 Ibadah Berdarah Ala Syiah.mp4  
flv Kekejaman Syiah – Dokumenter.flv  
flv Kekejaman Syiah – Execution of Ahl Al-Sunnah.flv  
mp4 Kezaliman dan Ancaman Syiah.mp4  
mp4 Persamaan Syiah dan Yahudi.mp4  
mp4 Presiden Iran (Ahmadinejad) Memukul Badan.mp4  
mp4 Rahasia Dunia Syiah Terbongkar [1-5].mp4  
mp4 Rahasia Dunia Syiah Terbongkar [2-5].mp4  
mp4 Rahasia Dunia Syiah Terbongkar [3-5].mp4  
mp4 Rahasia Dunia Syiah Terbongkar [4-5].mp4  
mp4 Rahasia Dunia Syiah Terbongkar [5-5].mp4  
mp4 Ritual Lucu Agama Syiah.mp4  
mp4 Ritual Pukul Badan.mp4  
mp4 Ritual Syiah Menjilat Tangga Kuburan Husein Bin Ali.mp4  
flv Shia Beliefs Compared to Islam.flv  
flv Shia Crazy Muharram (Asyura) Ritual.flv  
flv Shia Curses Abu Bakar, Umar, Aisha, Hafsah.flv  
flv Shia False Belief in the Quran.flv  
flv Shia Impolite To Allah.flv  
flv Shia Kafir Changing Quran 1.flv  
flv Shia Kafir Changing Quran 2.flv  
flv Shia Kufr Aqidah – Allah Is A Poet.flv  
flv Shia Kufr Aqidah – Calling to Ali.flv  
flv Shia Kufr Aqidah – Heaven Is Through Ali.flv  
flv Shia Kufr Aqidah – Imam Is Creator.flv  
flv Shia Kufr Aqidah – Nikah Mut’ah.flv  
flv Shia Kufr Aqidah – Praying To Imams.flv  
flv Shia Kufr Aqidah – Quran is All About Ali.flv  
flv Shia Kufr Aqidah – Quran Is Corrupted.flv  
flv Shia Kufr Aqidah – Quran Revealed to Ali.flv  
flv Shia Kufr Aqidah – Shirk in Imams.flv  
flv Shia Kufr Aqidah – The Most Important Thing.flv  
flv Shia Kufr Aqidah – Visiting Allah.flv  
flv Shia Kufr Believe – Ali Is God.flv  
flv Shia Pagan (Syirik) Ritual.flv  
flv Shia Peeing Masjid Nabawi.flv  
flv Shia Permitting Homosex and TransGender.flv  
flv Shia Rape Muslim Women.flv  
flv Shia Resemblances With Pagans.flv  
mp4 Shia Scholar Al-Tijani Answer Questions By Laughing.mp4  
flv Shia Strange Adzan.flv  
flv Shia Tatbir Ritual.flv  
flv Shia vs Shia.flv  
flv Shia Worshipping Ali 1.flv  
flv Shia Worshipping Ali 2.flv  
flv Shia Worshipping Fire.flv  
flv Shia Worshipping Grave.flv  
mp4 Syiah (Paganism) Menggambar Nabi dan Menjual Gambarnya.mp4  
mp4 Syiah Bagian 1 – Penghinaan Terhadap Umar bin Khaththab.mp4  
mp4 Syiah Bagian 2 – Kabah Menurut Syiah Tak Ada Artinya Dibanding Karbala.mp4  
mp4 Syiah Bagian 4 – Pengkhianatan Ali bin Yaktin dan Tentara Tartar.mp4  
mp4 Syiah Bagian 5 – Di balik Revolusi Iran.mp4  
mp4 Syiah Bagian 6 – Di Balik Hizbullah Libanon.mp4  
mp4 Syiah Bukan Islam.mp4  
mp4 Syiah Gila – Cara Imam Mereka Berhibur.mp4  
mp4 Syiah Melaknat Para Sahabat Nabi Bahkan Sayidah Aisyah.mp4  
mp4 Syiah Melaknat Sahabat.mp4  
mp4 Syiah Memfitnah Istri Nabi.mp4  
mp4 Syiah Memiliki Quran yang Berbeda (Quran Palsu).mp4  
mp4 Syiah Menyembah Pohon dan Tembok.mp4  
mp4 Syiah Ritual Paganisme.mp4  
mp4 Taqiyyah Ala Syiah.mp4  
mp4 Taqiyyah Syiah Dibongkar.mp4  
mp4 Taqiyyah Syiah Dibuka.mp4  
flv The 12th Imam controls the world – Said The President of Iran (Mahmoud Ahmadinejad).flv  
flv The 12th Imam of Shia is Dajjal – the Imam is not a Muslim, and actually is a Jew.flv  
mp4 Tokoh Syiah Ketahuan Berdusta.mp4  
mp4 Ulama Syiah Merayakan Hari Raya Pengutukan Aisyah.mp4  

 

5 (lima) s

Suatu saat, adzan Maghrib tiba. Kami bersegera shalat di sebuah mesjid yang dikenal sebagai tempat mangkalnya aktivis Islam yang mempunyai kesungguhan dalam beribadah. Di sana tampak beberapa pemuda yang berpakaian “khas Islam” sedang menantikan waktu shalat. Kemudian, adzan berkumandang dan qamat pun segera diperdengarkan sesudah shalat sunat. Hal yang menarik adalah begitu sungguh-sungguhnya keinginan imam muda untuk merapikan shaf. Tanda hitam di dahinya, bekas tanda sujud, membuat kami segan. Namun, tatkala upaya merapikan shaf dikatakan dengan kata-kata yang agak ketus tanpa senyuman, “Shaf, shaf, rapikan shafnya!”, suasana shalat tiba-tiba menjadi tegang karena suara lantang dan keras itu. Karuan saja, pada waktu shalat menjadi sulit khusyu, betapa pun bacaan sang imam begitu bagus karena terbayang teguran yang keras tadi.

Seusai shalat, beberapa jemaah shalat tadi tidak kuasa menahan lisan untuk saling bertukar ketegangan yang akhirnya disimpulkan, mereka enggan untuk shalat di tempat itu lagi. Pada saat yang lain, sewaktu kami berjalan-jalan di Perth, sebuah negara bagian di Australia, tibalah kami di sebuah taman. Sungguh mengherankan, karena hampir setiap hari berjumpa dengan penduduk asli, mereka tersenyum dengan sangat ramah dan menyapa “Good Morning!” atau sapa dengan tradisinya. Yang semuanya itu dilakukan dengan wajah cerah dan kesopanan. Kami berupaya menjawab sebisanya untuk menutupi kekagetan dan kekaguman. Ini negara yang sering kita sebut negara kaum kafir.

Dua keadaan ini disampaikan tidak untuk meremehkan siapapun tetapi untuk mengevaluasi kita, ternyata luasnya ilmu, kekuatan ibadah, tingginya kedudukan, tidak ada artinya jikalau kita kehilangan perilaku standar yang dicontohkan Rasulullah SAW, sehingga mudah sekali merontokkan kewibawaan dakwah itu sendiri.

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan dengan berinteraksi dengan sesama ini, bagaimana kalau kita menyebutnya dengan 5 (lima) S: Senyum, salam, sapa, sopan, dan santun.

S yang pertama adalah senyum. Kita harus meneliti relung hati kita jikalau kita tersenyum dengan wajah jernih kita rasanya ikut terimbas bahagia. Kata-kata yang disampaikan dengan senyuman yang tulus, rasanya lebih enak didengar daripada dengan wajah bengis dan ketus. Senyuman menambah manisnya wajah walaupun berkulit sangat gelap dan tua keriput. Yang menjadi pertanyaan, apakah kita termasuk orang yang senang tersenyum untuk orang lain? Mengapa kita berat untuk tersenyum, bahkan dengan orang yang terdekat sekalipun. Padahal Rasulullah yang mulia tidaklah berjumpa dengan orang lain kecuali dalam keadaan wajah yang jernih dan senyum yang tulus. Mengapa kita begitu enggan tersenyum? Kepada orang tua, guru, dan orang-orang yang berada di sekitar kita?

S yang kedua adalah salam. Ketika orang mengucapkan salam kepada kita dengan keikhlasan, rasanya suasana menjadi cair, tiba-tiba kita merasa bersaudara. Kita dengan terburu-buru ingin menjawabnya, di situ ada nuansa tersendiri. Pertanyaannya, mengapa kita begitu enggan untuk lebih dulu mengucapkan salam? Padahal tidak ada resiko apapun. Kita tahu di zaman Rasulullah ada seorang sahabat yang pergi ke pasar, khusus untuk menebarkan salam. Negara kita mayoritas umat Islam, tetapi mengapa kita untuk mendahului mengucapkan salam begitu enggan? Adakah yang salah dalam diri kita?

S ketiga adalah sapa. Mari kita teliti diri kita kalau kita disapa dengan ramah oleh orang lain rasanya suasana jadi akrab dan hangat. Tetapi kalau kita lihat di mesjid, meski duduk seorang jamaah di sebelah kita, toh nyaris kita jarang menyapanya, padahal sama-sama muslim, sama-sama shalat, satu shaf, bahkan berdampingan. Mengapa kita enggan menyapa? Mengapa harus ketus dan keras? Tidakkah kita bisa menyapa getaran kemuliaan yang hadir bersamaan dengan sapaan kita?

S keempat, sopan. Kita selalu terpana dengan orang yang sopan ketika duduk, ketika lewat di depan orang tua. Kita pun menghormatinya. Pertanyaannya, apakah kita termasuk orang yang sopan ketika duduk, berbicara, dan berinteraksi dengan orang-orang yang lebih tua? Sering kita tidak mengukur tingkat kesopanan kita, bahkan kita sering mengorbankannya hanya karena pegal kaki, dengan bersolonjor misalnya. Lalu, kita relakan orang yang di depan kita teremehkan. Patut kiranya kita bertanya pada diri kita, apakah kita orang yang memiliki etika kesopanan atau tidak.

S kelima, santun. Kita pun berdecak kagum melihat orang yang mendahulukan kepentingan orang lain di angkutan umum, di jalanan, atau sedang dalam antrean, demi kebaikan orang lain. Memang orang mengalah memberikan haknya untuk kepentingan orang lain, untuk kebaikan. Ini adalah sebuah pesan tersendiri. Pertanyaannya adalah, sampai sejauh mana kesantunan yang kita miliki? Sejauh mana hak kita telah dinikmati oleh orang lain dan untuk itu kita turut berbahagia? Sejauh mana kelapangdadaan diri kita, sifat pemaaf ataupun kesungguhan kita untuk membalas kebaikan orang yang kurang baik?

Saudara-saudaraku, Islam sudah banyak disampaikan oleh aneka teori dan dalil. Begitu agung dan indah. Yang dibutuhkan sekarang adalah, mana pribadi-pribadi yang indah dan agung itu? Yuk, kita jadikan diri kita sebagai bukti keindahan Islam, walau secara sederhana. Amboi, alangkah indahnya wajah yang jernih, ceria, senyum yang tulus dan ikhlas, membahagiakan siapapun. Betapa nyamannya suasana saat salam hangat ditebar, saling mendo’akan, menyapa dengan ramah, lembut, dan penuh perhatian. Alangkah agungnya pribadi kita, jika penampilan kita selalu sopan dengan siapapun dan dalam kondisi bagaimana pun. Betapa nikmatnya dipandang, jika pribadi kita santun, mau mendahulukan orang lain, rela mengalah dan memberikan haknya, lapang dada, pemaaf yang tulus, dan ingin membalas keburukan dengan kebaikan serta kemuliaan.

Saudaraku, Insya Allah. Andai diri kita sudah berjuang untuk berperilaku lima S ini, semoga kita termasuk dalam golongan mujahidin dan mujahidah yang akan mengobarkan kemuliaan Islam sebagaimana dicita-citakan Rasulullah SAW, Innama buitsu liutammima makarimal akhlak, “Sesungguhnya aku diutus ke bumi ini untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.***

indonesia butuh Hakim seperti apa?

ada sebuah cerita tentang hakim yang teguh dan beraklak mulia. simaklah;

Setiap pagi Syuraih bin Al-Harits Al-Kindi berangkat ke tempat kerjanya. Wajah dan sorot matanya tenang menyiratkan ke arifan pribadinya. Dari kearifannya itu pula keluar sikap dan pendiriannya yang teguh. Ia adalah seorang hakim yang disukai dan disegani masyarakat.

Syuraih terbiasa menghakimi kalangan kaum muslimin maupun orang-orang bukan muslim. Di pengadilannya, Syuraih tidak membedakan antara pejabat atau rakyat kecil, kaya atau miskin, muslim atau bukan muslim. Jika ia bersalah tetap tidak boleh dibela. Semua orang mendapat perlakuan yang adil dan bijaksana.

Hari itu Syuraih kedatangan Amirul mukminin, Umar bin Khaththab.
Rupanya, Khalifah Umar sedang mendapat masalah dengan seorang pedagang desa. Keduanya menghadap Syuraih untuk mendapatkan keputusan atas perkara yang dihadapinya.

Dengan wajah tenang dan berwibawa Syuraih memimpin sidang pengadilan.

“Silakan Tuan pedagang, apa yang mau Anda sampaikan?” tanya Syuraih.

“Pak hakim yang mulia, beberapa hari yang lalu Amirul mukminin membeli seekor kuda dari saya,” kata pedagang.

“Tapi kemarin, tiba-tiba ia ingin mengembalikannya lagi dan meminta ganti,” lanjutnya.

Syuraih lalu berpaling pada Khalifah Umar.

“Dan sekarang giliran Anda, ya Amirul mukminin,” kata Syuraih.

“Aku ingin mengembalikan kuda itu padanya karena kudanya cacat dan berpenyakit sehingga larinya tidak kencang,” kata Umar bin Khaththab.

“Bagaimana Tuan?” tanya Syuraih lagi.

“Saya tidak akan menerimanya lagi karena saya sudah menjual kuda itu dalam keadaan sehat dan tidak cacat,” sahut pedagang kuda itu.

Syuraih mendengarkan semua keterangan dari kedua pihak dengan seksama. Lalu, Syuraih pun bertanya pada Umar bin Khaththab.

“Apakah ketika Amirul mukminin membeli kuda itu, keadaannya sehat dan tidak cacat?” tanya Syuraih seraya menatap Umar.

“Ya benar!” jawab Umar jujur.

Hakim Syuraih pun memberi keputusan atas perkara itu.

“Nah, kalau begitu, peliharalah apa yang anda beli. Atau bila ingin mengembalikannya kembalikanlah seperti ketika anda menerimanya,” tukas Syuraih dengan mantap.

Hati Amirulmukminin merasa tidak puas. Kekecewaan memenuhi rongga dadanya. Hakim Syuraih berada dipihak pedagang desa itu.

“ Begitukah keputusanmu, Hakim Syuraih?” tanya Umar setengah memprotes keputusan itu.

Syuriah menganguk pasti. Keputusannya tidak bisa diganggu gugat.

Khalifah Umar merenung beberapa saat. Benar sekali apa yang dikatakan hakim itu. Syuraih telah memberikan keputusan yang bijaksana dan penuh keadilan. Dengan lapang dada, Umar dapat menerimanya. Jangan mentang-mentang ia pejabat lalu harus selalu dimenangkan perkaranya. Sementara nasib rakyat kecil tidak diperhatikan.

Begitulah, orang-orang selalu mempercayakan perkaranya diputuskan oleh Syuriah. Pengadilanya adalah tempat mendapatkan tempat yang seadil-adilnya.

Hingga pemerintahan Ali bin Abu Thalib, Syuriah tetap memangku jabatan hakim yang amat disegani dan dipercaya masyarakat kota Khuffah.

Suatu hari, Khalifah Ali mendatangi Hakim Syuriah untuk mengajulkn perkara dengan seorang Yahudi.

“Ada masalah apa, ya Amirul mukminin?” tanya Syuraih.

“Pak Hakim, aku mendapatkan baju perangku ditangan orang ini. Padahal, aku tidak pernah memberikan atau menjualnya pada siapapun,” sahut Khalifah Ali.

“Bagaimana pendapatmu, wahai Tuan Yahudi?” tanya Syraih pada lelaki itu.

“ Bukan! Ini baju perangku. Sebab, sekarang berada di tanganku.” Bantah orang itu tak mau kalah. Dengan bijaksana Syuraih menerima pendapat orang itu. Kemudian menoleh pada Khalifah Ali.

“Bagaimana Anda yakin kalau baju perang itu milikmu?” tanyanya lagi pada Ali.

“Aku yakin sekali. Karena satu-satunya orang yang memiliki baju perang seperti itu hanya aku. Baju perang itu terjatuh di suatu tempat. Dan kini, baju perang itu ada padanya. Bagaimana mungkin aku menjualnya di pasar?”

“Aku tidak meragukan apa yang Anda katakan itu. Tapi Anda wajib mengajukan dua orang saksi untuk dijadikan saksi atas apa yang Anda akui itu,” kata Syuraih.

“Baiklah, aku bersedia mendatangkan dua saksi,” kata Ali. Khalifah Ali begitu menyayangi baju perangnya. Karena baju itu, harta yang sangat berharga dan tinggi nilainya bagi Khalifah. Ia sangat berharap baju perangnya bisa dimilikinya kembali.

“Pembantuku, Qanbar, akan kujadikan saksi. Dan satu lagi, Al-Hasan, anakku,” sahut Khalifah Ali bersemangat. Sudah pasti keduanya dapat dijadikan saksi atas kebenaran ucapannya.

“Ya, amirulmukminin! Tidaklah sah kesaksian seorang anak terhadap ayahnya,” kata Syuraih mengingatkan ketentuan yang sudah ditetapkan Allah.

“Subhanallah! Kesaksian Al-Hasan, salah seorang pemuda penghuni surga tidak diterima,” ucap Ali mengeluh sedih.

“Betul! Aku hanya tidak membolehkan kesaksian anak pada ayahnya,” tegas Syuraih tak bergeming. Pendiriannya berdasarkan ajaran Allah. Walaupun itu menyangkut khalifah besar, seorang ayah dari pemuda penghuni sorga yang telah disabdakan Rasulullah.

Khalifah Ali menarik napas berat mendengar keputusan Syuraih. Hatinya kecewa. Ia merasa kalah dan tak dapat memiliki baju perangnya kembali.

“Aku tidak punya saksi lain. Jadi, baju perang ini memang milikmu,” kata Ali menyerahkan baju perangnya pada orang Yahudi itu. Ya! Jauh di lubuk hati Khalifah Ali mengakui kalau Hakim Syuraih sudah bertindak benar. Apa yang di tetapkan Allah harus ditegakkan. Tak terkecuali terhadap dirinya yang seorang Khalifah!

“Ya amirulmukminin!” Tiba-tiba Yahudi itu bersimpuh di hadapan Khalifah Ali.

“Memang betul! Baju perang ini milikmu! Hari ini, aku melihat seorang hakim yang begitu teguh menegakkan ajaran Allah. Ia memenangkan aku. Sungguh! Aku lihat Islam melakukan kebenaran! Saat ini juga aku akan menjadi penganut Islam…….,” kata orang itu.

“Pak Hakim yang mulia, sebenarnya, aku telah memungut baju perang Amirul mukminin sewaktu terjatuh pada peperangan di Siffin!” sahut orang Yahudi itu mengakui yang sebenarnya.

Mendengar perkataan orang itu, khalifah Ali berubah wajahnya. Ia segera merangkul lelaki itu seraya tersenyum bahagia.

“Karena kau sudah masuk islam, maka kuhadiahkan baju perang itu kepadamu. Dan juga kuda ini,“ sahut Khlifah Ali dengan tulus.

Sungguh mengagumkan keputusan yang diberikan Hakim Syuraih!.

10 langkah mendidik anak dibulan ramadhan

Shaum (puasa) Ramadhan adalah salah satu pilar dari Rukun Islam. Maka mendidik anak untuk berpuasa Romadhan menjadi kewajiban keislaman yang integral bagi para orang tua. Para sahabat Rasul telah mendidik putra-putri mereka yang masih kecil untuk berpuasa.

Seperti yang dituturkan shahabiyah Rubayyi’ binti Mu’awwiz tentang bagaimana cara mereka mendidik anak-anak mereka berpuasa Asyura (sebelum diwajibkan puasa Romadhan: ” …dan kami melatih anak-anak kami yang masih kecil untuk berpuasa. Kami bawa mereka ke masjid dan kami buatkan mereka mainan dari bulu. Apabila diantara mereka ada yang merengek minta makan, maka kami bujuk dengan mainan itu terus hingga tiba waktu berbuka” (HR. Bukhari Muslim).

Dari riwayat diatas, kita dapat mengetahui bahwa para sahabat memberikan perhatian yang serius dalam melatih putra-putri mereka untuk membiasakan berpuasa. Lantas apa yang dapat kita lakukan saat ini untuk meneladani tradisi sahabat tadi?

Ada 10 panduan yang perlu kita perhatikan:

1. Melakukan pengkondisian menyambut Ramadhan dengan memberi bekalan pemahaman yang memadai tentang keutamaan Ramadhan. Jika pengkondisian ini dilakukan berulang-ulang sejak sebelum Ramadhan tiba, sangat mungkin akan tumbuh niat yang kuat pada anak untuk berpuasa Ramadhan.

2. Menyambut Ramadhan dengan keriangan dan keceriaan. Rasulullah telah menasehati Abdullah bin Mas’ud untuk menyambut Ramadhan dengan wajah yang berseri tidak cemberut. Jika kita perluas keceriaan tadi, dapat juga dengan cara memberi dekorasi yang khas pada kondisi rumah, sehingga anak semakin menyadari akan keistimewaan Ramadhan dibandingkan bulan lainnya. Hal ini akan menstimulus mereka untuk berpuasa.
3. Dibuat sedemikian rupa sehingga bulan Ramadhan adalah hari-hari yang paling indah untuk dikenang sang anak hingga mereka remaja dan dewasa.
4. Ini tentu akan lebih mudah tercapai jika ada peran serta masyarakat umum dan pemerintah dengan menghidupkan syiar-syiar Ramadhan di jalan raya, perkantoran, pabrik, media masa dan lain-lain.
5. Menata jam tidur anak-anak sehingga akan mudah bergairah saat bangun sahur. Waktu sahur sebaiknya diakhirkan (kira-kira satu atau setengah jam menjelang salat subuh) sebagaimana anjuran Rasulullah. Hikmahnya antara lain agar setelah sahur tidak terlalu lama menunggu waktu subuh.
5. Tidak meletakkan makanan, minuman dan buah-buahan secara terbuka, sehingga akan menggoda mereka untuk segera membatalkan puasanya. Makanan diletakkan pada tempat yang jauh dari perhatian mereka. Hal ini juga sepatutnya diperhatikan oleh restoran dan penjaja makanan di pinggir jalan.
6. Terhadap anak yang baru berlatih puasa (belum kuat dan gampang terpengaruh), sebaiknya mereka dijauhkan bermain dari anak-anak yang malas berpuasa. Dan didekatkan dengan anak-anak lainnya yang juga tekun berlatih. Ini perlu dilakukan agar mereka memperoleh rasa kebersamaan, bukan keterasingan karena puasanya.
7. Melatih berpuasa dengan bertahap dan menjanjikan hadiah sebagai rangsangan. Misalnya diawali dengan izin berbuka sampai jam 10, lalu jam 12 dan seterusnya sampai akhirnya penuh sampai waktu berbuka. Hadiahnya disamping penghargaan dan pujian sebagai anak yang sabar, juga dapat diberikan hadiah lain yang beraspek mendidik berupa alat-alat belajar.
8. Stimulus dengan pahala dan surga dari Allah. Jadi hadiah materi di atas tak menutupi stimulus ganjaran Allah. “Jika kamu berpuasa, maka kamu ikut membuka pintu pahala dari Allah bagi orangtuamu yang telah mendidikmu untuk berpuasa”. Anak akan senang karena sekaligus dapat berbuat sesuatu kebaikan untuk orangtuanya.
9. Memberi alternatif pengisian waktu yang tepat dan positif. Baik dengan istirahat tidur di siang panas, maupun dengan alternative permainan yang mendidik untuk melupakan mereka dengan rasa haus dan lapar yang menyengat. Sebagaimana yang telah dilakukan shahabiyah di masa Rasul. Saat ini sudah ada pesantren Ramadhan untuk anak-anak dan remaja, ini juga alternatif kegiatan yang menyenangkan bagi mereka. Atau orangtua dapat juga bersepakat dengan anak-anaknya untuk memasang target, bahwa seusai bulan Ramadhan kemampuan mereka mengaji Al-Qur’an harus lancar dan lebih baik. Perhatian kepada Al-Qur’an memang harus lebih besar di bulan Ramadhan, karena Al-Qur’an diturunkan pertama kali pada bulan ini. Dapat pula orang tua membacakan kisah-kisah keteladanan Islami, atau mendengarkan kaset-kaset cerita Islami.
10. Mengajak anak-anak untuk meramaikan syiar Ramadhan, seperti sholat tarawih berjamaah di masjid, mengaji dan mengkaji Quran, menyimak ceramah-ceramah agama, menyuruh mereka mengantar makanan ke masjid untuk orang yang berbuka puasa, lebih menggemarkan berinfak, shadaqah dan lainnya.

Khusus untuk para orang tua, jika mereka menyepelekan pendidikan puasa Ramadhan bagi anak-anaknya, maka mereka harus siap bertanggung jawab kepada Allah kelak di akhirat, jika putra-putrinya kemudian melalaikan kewajiban puasa Ramadhan. Oleh karena itu mereka harus memanfaatkan semaksimal mungkin pembiasaan puasa Ramadhan bagi anak-anaknya sejak dini. Dengan perhatian yang intens dan cara-cara yang bijak, niscaya dapat menggugah kesadaran anak-anak untuk berpuasa. Kesadaran itu tentu akan merupakan tabungan ibadah bagi para orang tua yang telah mendidik mereka.

Jika hal-hal di atas kita lakukan, maka Insya Allah keberkahan Ramadhan akan turun ke setiap keluarga muslim.